Minggu, 05 Maret 2017

MAKALAH
FILSAFAT DAN KAJIANNYA
Disusun untuk memenuhi matakuliah: Pengantar Filsafat Dan Filsat Ilmu

DosenPengampu:Bpk. M. Basyir Baick







DisusunOleh :
1.      AMIRUL MUKMININ

Semester 2

SEKOLAH TINGGIILMU TARBIYAH
 AL URWATUL WUTSQOJOMBANG
PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM 2017






KATA PENGANTAR

Assalamualikum Wr.Wb
Puji syukur  senantiasa selalu kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan limpahan Rahmat,Taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukan jalan kebaikan dan kebenaran di dunia dan akhirat kepada umat manusia.
Makalah ini di  susun guna memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Filsafat Dan Filsafat Ilmu dan juga untuk khalayak ramai sebagai bahan penambah ilmu pengetahuan serta informasi yang semoga bermanfaat.
Makalah ini kami susun dengan segala kemampuan kami dan semaksimal mungkin. Namun, kami menyadiri bahwa dalam penyusunan makalah ini tentu tidaklah sempurna dan masih banyak kesalahan serta kekurangan.Maka dari itu kami sebagai penyusun makalah ini mohon kritik, saran dan pesan dari semua yang membaca makalah ini terutama Dosen Mata Kuliah Pengantar Filsafat Dan Filsafat Ilmu yang kami harapkan sebagai bahan koreksi untuk kami.
Wa’alaikumsalam Wr.Wb








Jombang, 24 ebruari2017


Penyusun




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang      .............................................................................................................. 1
BAB II. PEMBAHASAN
A.    Pengertian Filsafat.................................................................................... 2
B.     Objek Materi Filsafat Dan Objek Formal Filsafat................................................. 2
C.     Ciri-Ciri Pemikiran Filsafat......................................................................................... 3
D.    Kedudukan Ilmu, Filsafat, dan Agama............................................................................ 4
BAB III. PENUTUP
Kesimpulan..................................................................................7                                              DAFTAR PUSTAKA................................................................8









BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Filsafat/filosofi berasal dari kata Yunani yaitu philos (suka) dan sophia (kebijaksanaan), yang diturunkan dari kata kerja filosoftein, yang berarti : mencintai kebijaksanaan, tetapi arti kata ini belum menampakkan arti filsafat sendiri karena “mencintai” masih dapat dilakukan secara pasif. Pada hal dalam pengertian filosofteinterkandung sifat yang aktif.[1]
Filsafat adalah pandangan tentang dunia dan alam yang dinyatakan secara teori. Filsafat adalah suatu ilmu atau metode berfikir untuk memecahkan gejala-gejala alam dan masyarakat. Namun filsafat bukanlah suatu dogma atau suatu kepercayaan yang membuta. Filsafat mempersoalkan soal-soal: etika/moral, estetika/seni, sosial dan politik, epistemology/tentang asal pengetahuan, ontology/tentang manusia, dll.
Menetapkan suatu definisi nampaknya sulit untuk dilakukan. kenapa? Persoalannya bukan terletak pada soal bagaimana untuk mengemukakan definisi itu, melainkan soal mengerti atau tidaknya orang menerima definisi tersebut. Ini adalah persoalan yang tidak bias dianggap sepele. Demikian juga filsafat, sulit sekali untuk memberikan suatu batasanyang benar(pasti) tentang katqa filsafat. Buktinya para filsuf selalu berbeda-beda dalam medefinisikan filsafat.
Layaknya seperti ilmu pengetahuan, filsafat  juga mempunyai metode yang digunakan untuk memecahkan problema-problema filsafat. Selain itu filsafat juga mempunyai obyek dan sistematika/struktur. Tidak kalah pentingnya dengan cabang ilmu pengetahua, filsafat juga mempunyai manfaat dalam mempelajarinya.









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Filsafat
Secara etimologis, filsafat diambil dari bahasa Arab, falsafah-berasal dari bahasa Yunani, Philosophia, kata majemuk yang berasal dari kata Philos yang artinya cinta atau suka, dan kata Sophia yang artinya bijaksana. Dengan demikian secara etimologis, filsafat memberikan pengertian cinta kebijaksanaan.
Secara terminologis, filsafat mempunyai arti yang bermacam-macam, sebanyak orang yang memberikan pengertian. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi tersebut :
1.                          Plato (477 SM-347 SM). Ia seorang filsuf Yunani terkenal, gurunya Aristoteles, ia sendiri berguru kepada Socrates. Ia mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada, ilmu yang berminat untuk mencapai kebenaran yang asli.
2.                          Aristoteles (381SM-322SM), mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu; metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
3.                          Marcus Tulius Cicero (106SM-43SM), seorang politikus dan ahli pidato Romawi merumuskan filsafat sebagai pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
4.                          Al-Farabi (wafat 950M), seorang filsuf muslim mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.[2]
Jadi, filsafat ialah daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami secara radikal dan integral serta sistematik mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia.
B.     Objek Materi Filsafat dan Objek Formal Filsafat
1.      Objek Materi Filsafat
Adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada yang meliputi segala sesuatu yang konkrit seperti manusia,benda,binatang,dan lain-lain maupun yang bersifat abstrak. Tentang objek materi ini banyak yang sama dengan objek materi sains, bedanya ialah dalam dua hal pertama: sains menyelidiki hal yang empiris, filsafat menyelidiki objek itu juga tetapi bukan bagian yang empiris melainkan bagian yabg abstrak. Kedua:ada objek materi filsafat yang tidak diteliti oleh sains seperti Tuhan,hari akhir, yaitu objek materi yang untuk selama-lamanya tida empiris jadi objek materi filsafat lebih luas dari objek materi sains.[3]
2.      Objek Formal Filsafat
Cara memandang seorang peneliti terhadap objek materi tertentu. Suatu objek materi tertentu dapat ditinjau dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda, yang mana objek formal filsafat ialah penyelidikan yang mendalam artinya ingin taunya filsafat ingin tau bagian dalamnya. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek yang tidak empiris. Penyelidikan sains tidak mendalam karea ia hanya ingin tau sampai batas objek itu dapat diteliti secara empiris.sedangkan objek penelitian filsafat adalah pada daerah tidak dapat diriset tetapi dapat dipilarkan secara logis jadi sains menyelidiki dengan riset sedangkan filsafat menyelidiki dengan pemikiran.[4]
C.     Ciri-Ciri Pemikiran Filsafat
Semua manusia hidup yang normal senantiasa ditandai dengan kegiatan yang khas yaitu berfikir.kegiatan berfikir inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain,namun tiidak semua kegiatan berfikir disebut dengan kegiatan berfilsafat.demikian juga kegiatan secara kefilsafatan bukan hanya merenung atau kontenplasi belakang yang tdak ada sangkut mautnya dengan realitas,namun berfikir secara kefilsafatan senantiasa berkaitan dengan masalah manusia dan bersifat aktual dan hakiki.[5]
1.       Berfikir kritis
Suatu kegiatan berfikir secara kefilsafatan senantiasa bersifat kritis yaitu senantiasa mempertannyakaan segala sesuatu,problem-problem, atau hal-hal yang lain.sifat kritis ini juga mengawali perkembanggan ilmu pengetahuan modern.
2.       Bersifat konseptual
Berfikir secara konseptual. Yaitu mengenai hasil generalisasi dan abstraksi daripengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual. Berfikir secara kefilsafatan tidak bersangkutan dengan pemikiran terhadap perbuatan-perbuatanbebas yang dilakukan oleh orang-orang tertentu sebagaimana yang biasa dipelajari oleh seorang psikolog, melainkan bersangkutan dengan pemikiran.
3.       Kohereh (runtun)
Berfikir secara koheren dan konsisten. Artinya, berfikir sesuai dengan kaidah-kaidah berfikir dan tidak mengandung kontradiksi atau dapat pula diartikan dengan berfikir secara runtut.
4.       Bersifat menyeluruh (komprehensif)
Berfikir secara komprehensif (menyeluruh). Berfikir secara filsafat berusaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
5.       Bersifat universal
Berfikir secara universal atau umum. Berfikir secara umum adalah berfikir tentang hal-hal serta suatu proses yang bersifat umum. Jalan yang dituju oleh seorang filsuf adalah keumuman yang diperoleh dari hal-hal yang bersifat khusus yang ada dalam kenyataan.
6.       Bersifat terdalam
Berfikir secara universal atau umum. Berfikir secara umum adalah berfikir tentang hal-hal serta suatu proses yang bersifat umum. Jalan yang dituju oleh seorang filsuf adalah keumuman yang diperoleh dari hal-hal yang bersifat khusus yang ada dalam kenyataan.
7.       Bersifat sistematis
Sistematik artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu
8.       Bertanggungjawab
Bertanggungjawab artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri[6]
D.    Kedudukan Ilmu, Filsafat, dan Agama
Ilmu, filsafat dan agama mempunyai hubungan yang terkait dan rekletif deengan manusia,dikatakan terkait karena ketiganya tidak dapat bergerak dan berkembang apabila tidak ada tigal alat dan tenaga utama yang berada didalam diri manusia.tiga alat dan tenaga utama manusia adalah akal pikiran,rasa, dan keyakinan.sehingga dengan tiga hal terebut manusia dapat mencapai kebahagiaan bagi dirinya.[7]
1.      Filsafat dan ilmu pengetahuan
Dalam memahami pengertian filsafat dan perbedaannya  dengan ilmu pengetahuan yang lainnya.ilmu mendasarkan pada akal pikiran lewat pengalaman dan indra dan filsafat mendasarkan pada otoritas akal murni secara bebas terhadap kenyataan dan pengalaman terutama dikaitkan dengan kehidupan manusia.[8] terdapat suatu perbedaan yang prinsipal diantara filsafat dengan ilmu pengetahuan yang lainnya.ilmu filsafat bersifat refleksif yaitu membahas dan mempertanyakan objek termasuk filsafat adapun ilmu lainnya hanya membahas objek ilmu tersebut  namun tidak pernah mempertannyakan dirinya sendiri.maka terdapat perbedaan dan persamaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan antara lain:
a.       Persamaan
1). Baik ilmu maupun filsafat keduanya merupakan pengetahuan manusia
2). Baik ilmu maupun filsafat keduannya berpangkal pada akal manusia untuk mencapai suatu kebenaran
3). Filsafat sebagai suatu ilmu (yaitu ilmu filsafat) dengan ilmu pengetahuan keduannya ini syarat ilmiah yaitu memiliki objek,metode,sistematis serta memiliki kriteria kebenaran
4). Baik ilmu maupun filsafat keduannya merupakan suatu sistem pengetahuan manusia yang bersifat rasional dan sistematis
b. Perbedaan
1). Filsafat merupakan induk ilmu pengetahuan.maka perkembangan dan pertumbuhan ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh filsafat,prinsip metodenya.adapun ilmu tidak membahas tentang prinsipmetode.
2). Filsafat bersifat reflektif yaitu mempertannyakan dan membahas tentang objek termasuk filsafat itu sendiri adapun ilmu pengetahuan tidak bersifat refleksif.
3). Filsafat membahas segala sesuatu secara menyeluruh dan universal sedangkan ilmu hanya membahas pada gejala-gejala yang sangat khusus dan dari sudut pandangnya yang khusus pula.
4). Ilmu hanya menjelaskan fakta terutama fakta empiris sedangkan filsafat memahami,menginteprestasikan, dan menafsirkan fakta secara rasional.[9]
2.  Filsafat dan Agama
Filsafat mendasarkan pada otoritas akal murni secara bebas dalam penyelidikan terhadap kenyataan dan pengalaman terutama dikaitkan dengan kehidupan manusia sedangkan agama mendasarkan pada wahyu.
Menurut Prof. Nasroen,S.H. mengemukakan bahwa filsafat yang sejati haruslah berdasarkan pada agama.apabila filsafat tidak berdasarkan pada agama dan filsafat hanya semata-mata berdasarkan atas akal pikiran saja.maka filsafat tersebut tidak akan memuat kebenaran objektif karena yang memberikan penerangan dan putusan adalah akal pikiran.sedangkan kesanggupan akal pikiran terbatas,sehingga filsafat yang hanya berdasarkan pada akal pikiran semata-mata akan tidak sanggup memberi kepuasan bagi manusia,terutama dalam rangka pemahamannya terhadap yang ghaib. maka dari itu dapatlah dipahami hubungan dan perbedaan antara filsafat dan agama sebagai berikut:
a.            Filsafat merupakan  suatu usaha manusia untuk mendapatkan suatu kebenaran yang hakiki, melalui akal budinya dengan segala kemampuan batiniyah,baik yang menyangkut hal-hal bersifat fasis maupun nonfisis, baik yang menyangkut manusia maupun alam semesta dengan segala permasalahannya.
b.            Filsafat dengan persamaan tersebut terdapat suatu perbedaan
yaitu filsafat berpangkat tolak pada akal budi beserta seluruh potensi batiniyah manusia adapun agama kebenarannya bersumber pada wahyu Tuhan adapun manusia hanya menerima dengan suatu iman dan ketaqwaan.
c.            Filsafat bersifat rasional,komprehensif, dan sistematis yang terbatas pada kebenaran secara akal budi manusia.adapun agama tidak dapat dikenakan sistem kebenaran yang mengunakan hukum-hukum akal manusia.maka agama hanya mampu dipahami dengan hanya hukum tuhan.










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya :
1.  Secara etimologis, filsafat diambil dari bahasa Arab, falsafah berasal dari bahasa Yunani, Philosophia, kata majemuk yang berasal dari kata Philos yang artinya cinta atau suka, dan kata Sophia yang artinya bijaksana. Dengan demikian secara etimologis, filsafat memberikanpengertian cinta kebijaksanaan.
2.  Secara terminologis, filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu; metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
3. Ada tiga metode yang digunakan untuk memecahkan problema-problema  Filsafat yaitu: metode deduksi, induksi dan metode dialektik.
4. Obyek penyelidikan filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada, tidak terbatas.
5. Struktur/sistematika filsafat berkisar pada tiga cabang flsafat yaitu teori pengetahuan, teori hakikat dan teori nilai.
6. Manfaat mempelajar filsafat diantaranya adalah manfaat dari sisi pengetahuan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dari sisi pengetahuan filsafat disebuat sebagai induk dari setiap disiplian ilmu pengetahuan, maka untuk memahami ilmu pengetahuan dan mampu me-interdisipliner-kan kita butuh filsafat. Filsafat dalam kehidupan sehari-hari bisa dijadikan patokan utama dalam mengembangan kebutuhan-kebutuhan manusia serta piranti dalam memahami proses keseharian secara mendalam dan jelas.









DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Asmoro. 2001. Filsafat Umum. Jakarta : PT. Raja Grafindo.
Gee, The Liang. 1991. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Liberty.
Kaelan.  1996. Filsafat Pancasila. Yogyakarta : Paradigma.
Sudiardja. 1995. Filsafat Etika. Yogyakarta: Diktat Kuliah.
Tafsir, Ahmad. 2001. Filsafat Umum. Bandung : PT. Remaja Rusdakarya.













[1] The Liang Gee, Pengantar Filsafat Ilmu, (Jakarta: Liberti,1991), h.1
[2] Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum (PT.Raja Grafindo,2001), h.2-3
[3] Ahmad Tafsir,filsafat umum (Bandung :PT.Remaja Rosdakarya,2001),h. 21
[4] Ibid. h 21-22
[5] Kaelan, Filsafat Pancasila (Yogyakarta:Paradikma,1996), h. 7
[6]  Ibid, h 8-12
[7] Sudiardja sj, Filsafat Etika (Yogyakarta:diktat kuliah,1995), h. 2-3
[8] Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum (PT.Raja Grafindo,2001), h. 16

[9] Ibid, h 28

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ULUMUL HADIST

MAKALAH MATERI KE 2 Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Pada Mata Kuliyah : ULUMUL HADIST Di semester : IID MPI Dosen Pengampu ...